Surabaya, 23 Mei 2005
aku hari ini mau mengatakan sesuatu padamu,
kalau semua ini tidak pernah terjadi, apa yang kita alami saat ini, tidak akan pernah ada. menyakitkan memang menerima kenyataan ini, pedih, getir dan siksaan kepahitan ini aku harap segera hilang, lenyap di terpa angin dan hangus terbakar matahari pagi, tiap-tiap hari.
kalau harus aku jujur, aku ingin kembali kemasa itu, disaat semuanya bermula, disaat semuanya belum terlambat. mencintaimu bukanlah dosa, tapi membencimu adalah duka dan nista. kenapa harus membencimu??? tidak cukupkah hanya mencintai saja????
sesak nafas yang kuderita tiap malam bukan karena kejamnya angin malam namun kejamnya hati yang tak mau mengampuni.
gaungan dan sentakan suara kakak selalu ada di gendang telingaku menggema, coba ingatkan aku akan dosaku yang akan sekali lagi aku ulangi, coba ingatkan aku untuk sadar dan kembali keduniaku lagi, bukan nirwana.
tangisku bukan karena sakit punggung yang kuderita selama ini, bukan karena rinduku pada mama yang dalam mimpipun mama tetap temani, tapi karena sesal!!!!
jangan sampai kata sesal ini terdengar oleh kakak, mama, papa, keluarga. tidak hanya alam semesta ini dan isinya yang akan menimpaku, tapi telapak tanganNyapun akan menghantam tubuhku, atas dasar hukuman yang setimpal yang harus aku terima.
detik-detik jam dinding itu selalu menyiksaku, dulu aku suka mendengarnya, namun kini aku lari dari padanya. mencoba menutup telingaku rapat-rapat agar tak terdengar detik itu, yang dulunya adalah detak kerinduanku padamu. dulu detik itu memberiku semangat namun kini detak itu membuatku sekarat.
bila kau jadi prsiden aku akan membuat undang-undang untuk tidak memasang jam dinding di rumah, kantor, atau dimanapun, agar tiap hari aku akan terhenti pada detik terakhir yang aku ingat, cukup detik terakhir saja yang aku perlu, karena detik terakhir yang aku dengar itu adalah detik terakhir saat aku bersamamu.
kasihan dan menyedihkan bukan lagi kata-kata yang pantas untukku, yang aku dengar kini adalah “hening”, “mati”, ya, wanita dewasa yang sudah mati.
sekujur tubuhku kadang menolak mentah-mentah obat penawar rasa sakit hati yang selalu aku minum, hal itu menjadi penyakit dan derita lagi untukku.
tak bisa gemuk bisa kita lihat pada orang yang selalu ”nelongso” , tapi di tubuhku kini seperti tidak mau beroprasi lagi, macet, mogok, demonstrasi, berontak, yang dikibatkan arus pendek dimana-mana. tidak ada yang bisa dihasilkan darinya, insulin sari makanpun sudah tidak bisa membantu lagi, sudah rusak, bobrok, tamat.
kata orang hidup adalah pilihan, tapi dalam kasusku tidak demikian, hidupku adalah penentuan, tak bisa memilih lagi mana yang hijau dan orange atau merah dan ungu tua.....memilih hidupku atau hidupmu. penentuan itu sudah terjadi, ada dan nyata. penentuanku adalah kerelaan.
tiap tidur aku selalu rapatkan tubuhku di dinding, enak....dingin, tak bisa aku kearah lain, aku takut lelehan kristal es yang keluar dari mataku terlihat orang lain, cukup dinding yang dingin ini saksiku. dia dengan setia memelukku tanpa pernah menanyakan sebab dan alasanya, dia cukup diam dan dingin untuk mengerti aku.
katanya setiap kali kita melihat bintang jatuh permohonan apapun yang kita katakan akan terkabul, hanya dengan ucapkan keinginan kita dalam hati niscaya akan terwujud, lain denganku, yang kulihat bukan bintang jatuh tapi bulan jatuh, bulan yang jatuh cinta pada sang bunga mawar, saat itu aku langsung ucapkan permohonanku untuk dapat bersama kekasihku, tapi apa kata bulan padaku, “jangankan kamu yang di bawah sana memohon dia menjadi milikmu dan mencintaimu, aku yang selama ini memohon pada bintang yang jatuh tak pernah terkabul, yang ada hanya sakit hati dan ketidak berdayaan, melihat mawarku telah lebih dahulu direbut sang bintang”. lalu bagaimana dengan aku??????
Surabaya,13 Juni 2005
1. aku marah karena kamu cium aku tanpa minta ijin ke aku.
2. aku takut, takut nggak bisa nolak kamu.
3. aku pingin nangis, menyesal kamu nggak bisa aku miliki.
4. aku senang, aku merasa diriku cantik lagi, hidup lagi, aku merasa diriku menarik, aku GR banget. dan aku makin senang ternyata yang buat aku begitu adalah kamu.
5. aku bingung, aku harus gimana, jadi bunglon model gimana lagi di depan setiap orang yang aku temui. aku bingung harus bersikap dan bertindak.
6. aku mau bilang juga kalau sejak kamu tinggal aku, terus kamu sama tirta, hidupku sudah mati. aku sudah nggak ada semangat lagi dan hidup yang aku lalui setelah ini adalah kehampaan.
aku jalani sisa hidupku ini tanpa rasa lagi, semua terasa hambar, kalau kamu mau tahu, aku sekarang hidup dalam bayanganmu, aku bisa ketawa seminggu penuh hanya karena hari saptu atau minggu aku bisa lihat kamu di rumah. aku bisa tidur nyenyak hanya karena aku sudah baca balasan dari smsku. aku bisa lupa diri kalau aku dengar suaramu, persis kaya orang bego, gelagapan ngak karuan. aku ikut sedih kalau kamu bertengkar sama tirta, aku juga sedih kalau kamu pergi dari aku.
Surabaya, 9 Juni 2005
detik jam ini membuatku terkejut setengah mati, dia menyadarkanku seperti bom nagasaki yang meletus di telingaku, entah sudah berapa lama aku tidak mendengarkanya. di saat peristiwa-peristiwa itu terjadi dan terlewatkan, baru saat ini aku bisa kembali mendengar detak itu lagi.
detik itu tak secepat seperti bayangan orang, detik waktu bagiku sangatlah lama, ada yang mencoba menahanya mundur, sehingga berat sekali untuk maju. gigiku berkerit-kerit coba menahan perasaan yang tak bisa dan tak boleh ku ungkap. mataku selalu berair bila mengingat dan rasakan keadaan ini. dadaku sakit, sesak menanggung cinta ini, terlalu berat aku simpan dalam hati. terlalu berat....aku takut aku tak mampu bertahan.
sekarang tak dapat lagi aku menghindar, kamu tak inginkan aku untuk menghilang, kamu tak mau aku pergi dari keegoisanmu, kamu ingin aku selalu jadi topangan yang kokoh untuk jaga-jaga mungkin saja kali ini kamu terjatuh lagi. kamu ingin aku selalu meninabobokanmu dan buat kamu tidur nyenyak dan nyaman di malam hari. kamu ingin aku memujamu dan terus buat kamu hidup dan hidupmu berarti. kamu ingin aku mengerti kamu tanpa harus kamu katakan semua yang kamu mau, kamu tak ingin aku dengan yang lain, aku, hanya aku milikmu yang tak termeterai. aku milikmu yang ilegal, aku milikmu yang hilang.
egoismu besarnya se-alam semesta ini!!!!
ciuman itu adalah racun mematikan yang pernah kutahu, menyengat seperti aliran listrik mematikan semua saraf tubuh hingga terkulai lemas tak berdaya.
rasanya aku mau makan orang saja sekarang!!!!!
sekarang aku bisa rasakan bagaimana tirta rasakan saat ini, kenapa dan bagaimana sikap dia saat ini bukan kesalahan sejak lahir tapi itu adalah siksaan batin, kalau aku jadi tirta aku sudah gila dari dulu, gimana ngak?!, tau dia dengan, terima sms, telephon, hampir ML ama cewek lain apa dia ngak kaya popcorn yang di sangrai di wajan panas. dia pasti akan meletus dan lompat dari tempat dia berada. dadanya sesak, jantungnya berdebar kencang, matanya panas dan memerah, tangan dan tubuhnya bergetar, persis stick getar video game. sudah tak ada rasa yang tersisa, aku rasa kata-kata yang tepat adalah” aku mau makan orang rasanya”
memakannya bulat-bulat, tidak dikunyah, langsung telan, utuh dan besar, masuk kedalam kerongkonganku dan mendorong masuk ganjalan di hati yang membuatku sesak ini.
dia pasti seperti cacing kepanasan mengeliat kesana kemari, sedangkan lelakinya di sana tenang-tenang saja menikmati cinta.
gigi tirta akan bergerit-gerut dan hampir memotong lidahnya sendiri, menahan amukan si “buto ijo” yang ada di dalam dadanya.
pada saatnya dia kelelahan dan mulai terkapar di lantai, tubuhnya kesemutan matanya mulai menerawang jauh memberi pilihan mati atau hidup tapi seperti mati.
dadanya sudah lubang, lubang besar sekali, karena baru saja “buto ijo” lari keluar mencari musuh bebuyutannya. mulut tirta terkunci 1000 kata, hanya satu kata yang bisa di ucap saat itu, dan hanya sekali terdengar dia katakan “sakit”.
sudah tidak bisa dikatakan cemburu lagi untuk kasus ini, tapi sudah menjadi penyakit kanker ganas yang bersarang di dalam hati. sudah tidak ada pilihan selain mati, bahkan dokter tak mampu berbuat apa-apa, apalagi mengobati.
###################################
kenapa aku harus kembali seperti ini, aku tak mau tiap saat sakit seperti ini, jangan sampai diantara kalian rasakan racun ini, tak ada racun yang paling mematikan selain cinta. gejalanya sangat mengerikan kenapa aku selalu terjerumus di lubang yang sama, kenapa??? apakah tak ada pilihan lain selain ini?? hidup macam apa yang akan aku alami nanti??? matiku kan sangat cepat, tak akan ada yang mengira aku nanti akan mati muda, kalau dibilang semua ini adalah pelarian, pelarian macam apa ini??? bila semuanya terhenti seperti yang dulu, dia hentikan semua ini tanpa kau pernah tau, lalu apa lagi yang akan menjadi penopangku???
aku tahu kenapa seorang pengarang atau penulis buku akan harum namanya dan karyanya dikenang setelah mereka mati, karena disaat dia mati orang-orang yang ada di sekitarnya dan yang mengisi hidupnya baru sadar dan merasa kehilangan, karena sudah tak ada lagi yang membuat mereka marah, jengkel, sudah tak ada lagi yang buat mereka menangis dan tertawa, sudah tak ada lagi yang merepotkan mereka, sudah tak ada yang menghibur dan temani mereka, sudah tidak ada yang lindungi dan jaga mereka, sudah tak ada yang mendengarkan cerita mereka, sudah tak ada yang mencintai mereka seperti dia mencintai dengan caranya.
karena dia mati, maka karyanya diabadikan dan disimpan, namun tak sekalipun dia inginkan itu, yang dia inginkan adalah abadikan cara dia mencintai mereka, dengan caranya....
#######################################################
Surabaya, 10 Juni 2005hari ini hari berkabung bagi seluruh dunia, aku gunakan pakaian hitam menadakan begitu hitamnya hatiku saat ini, aku berkabung untuk diriku yang telah mati untuk yang kesekian kalinya. membuatku semakin mati dari pada kematianku yang sebelumnya.
aku benci bukan padamu lagi, tapi pada diri ini, benci karena hati ini tak mau melepaskan dirimu. hati ini terus menyiksa dirinya sendiri, sampai kapan??? sampai kapan akan bertahan???? siapa sekarang yang akan kuburkan aku, apa cukup aku mati dan terbakar oleh api hatiku sendiri??? terbakar sampai menjadi abu, debu.
apakah raja akhirat mau menerima hatiku ini, hati yang bukan lagi jadi milikku, hati ini sudah diambil tanpa kompromi oleh orang yang kini menjadi jantung hatiku.
dia berkuasa untuk mencabut nyawaku sesuka hati, dan bila saat itu tiba, aku akan masuk dalam kehampaan, gelap, hitam.....
kini aku adalah pidana mati yang menunggu eksekusinya menunggu keputusan hakim yang tak kunjung datang, karena hakim masih libur ke luar negeri, ke miami katanya. kasihan pidana ini, hiduppun sudah tak berarti matipun tak dapat.
sia-siakah hidupnya sekarang????
atau matinyalah yang berati?????
aku rasanya ingin berteriak di depan wajahmu, aku ingin bertengkar dasyat denganmu, aku tak mau kau perlakukan aku seperti ini, kau anggap hubungan kita ini akan baik-baik saja??? aku tak tahan melihat dirimu, selalu baik padaku, perhatikan aku, itu buatku semakin tersiksa.
aku tak terima bila aku saja yang merasakan siksaan batin ini, aku merasa sendirian dan kesepian, menghadapi dilema pahit ini, dan sedangkan dirimu hidup tenang, damai, dan sejahtera disana.
kalau kau mau nyawaku, cepat ambilah segera, aku tak mau menunggu lebih lama lagi, terserah mau kau apakan hati ini, mau kau makan, silahkan..., mau kau buang, mau kau buat umpan pancing, tak apa..., mau kau buat alas kakimu, kain pelmu, gantungan kuncimu, sandal jepitmu, tempat sampahmu, tak apa....., tapi aku mohon satu padamu, sebelum kau lakukan itu semua, tolong matikan dulu sensor perasaku, agar aku tak dapat lagi rasakan apa-apa...yang ada hanyalah hampa....
akan jadi gila adalah pilihan ke dua. gila adalah gejala terakhir sebelum mati, sebelum jiwa ini mati...
tapi aku tak mau gila, aku mau langsung mati saja, mati dengan kepasrahan......
apakah permintaanku ini masih merepotkanmu????
#######################################################
Surabaya, 11 juni 2005dalam hati aku mau, aku mau kamu peluk, belai kamu, cium kamu, hangatkan tubuhku dengan pelukmu.
saat aku melangkah di depanmu, tatapanmu berubah tajam, itu bukan kamu, kamu seperti dirasuki setan berwujud harimau yang akan menerkam mangsanya, aku coba berlari menjauhimu, karena aku tahu tatapan itu, aku tahu maumu.
tapi apa daya sang rusa betina yang haus air dahaga jiwanya, kau raih tanganku coba menarik kearahmu, kau sergap lingkar pinggangku, kau cium aroma rambutku, aku bagai tersengat listrik, semua otot tubuhku tak mau bergerak, macet.
tapi kucoba terus menghindar, tapi kamu tak mau lepaskan, kamu terus mengejarku. memang rusa itu bodoh, akhirnya aku terjebak dalam sudut yang tak berarah, terjebak, tersudut, terpojok, tak bisa menghindar.
saat itu cakarmu mulai mencengkram tubuhku, kau tarik kearahmu, ke tubuhmu, kau dekap aku, kau cium aku, aku coba berontak tapi energi dalam tubuhku hilang entah kemana, aku terpaku, tersengat, terbuai, aku masuk kedalamnya.
kunikmati ciuman itu, aku mau terus ada dalam pelukan itu, kau selalu cium aku dengan lembut, tak pernah ada perang di sana, hanya ada sengatan listrik yang membuatku lemas, bahagia, cantik, seksi, menawan, manarik, berharga, diinginkan, didambakan, tak tertahankan, membuatku ke surga.
pelukanmu semakin erat, semakin dekat dan lekat di tubuhmu, sudah dan telah menyatu rasanya. aku hanya bisa memejamkan mata dan menikmatinya.
hisapan bibirmu benar-benar buatku bergairah, aku tak tahu lagi dimana jantungku terjatuh, karena sudah tak kurasakan lagi detaknya, atau kecepatanya sudah tak terhitung??
aku tak berani lagi menatap wajahmu, aku takut yang kulihat bukan kau lagi, tapi harimau jadi-jadian, aku tak mau lepaskan kenikmatan ini, aku tak mau berakhir...
nafasku terputus, jantungku berhenti berdetak, organ tubuhku berhenti bekerja, sengatan itu benar-benar mematikan......dan.......
“lapppp” seperti petir menyambar dan semua kembali nyata, saat kau lepaskan ciuman dan pelukan itu, kau seperti vampir yang cepat-cepat pergi setelah menghisap darah korbannya. nafasku kembali, jantungku berdetak lagi, aku rebahkan tubuhku di tanah, coba kembalikan nafasku yang sempat terputus, coba tenangkan diri dengan sedikit kesadaranku yang tersisa.
seperti habis di gendam, sadar belakangan dan semua yang aku punya hilang. setelah semua aman kau menatapku dari jauh, entah apa arti sorotan matamu itu, apakah kau coba katakan, “ terima kasih sayang, ciuman tadi benar-benar nikmat,” atau “ kamu jangan bilang siapa-siapa ya??!!!” atau “rasakan pembalasanku itu, biar tahu rasa kamu!!!”
memang aku supergirl, masih ada saja energi yang buatku tetap dalam keadaan tak terjadi apa-apa. aku dengan cepat bereskan semua barangku, kulihat kau dikejauhan, kau bagai burung gagak hitam yang mengawasiku dari tiang listrik, dan berusaha mencari sela untuk bisa menghabisiku lagi.
kau hadang aku di depan pintu, saat itu kau belai wajahku dengan tangan kananmu, aku tak mampu menatapmu, tatapanmu memang mengerikan, setan apa yang merasukimu????
ku ambil satu langkah mundur mencari pertolongan dan kaupun terbang menjauh,....... kau bawa semua harta rampasanmu itu, dan pergi.
yang sekarang aku rasakan hanya hampa.......
pkl 12.45 aku meneleponmu, intinya aku inginkan kamu, saat itu juga hatiku terasa lega. kalau aku sudah ambil keputusan ini sudah tak dapat aku tangguhkan lagi. memang aku tak bisa lepas dari dia, sampai kapan????
nggak tahu, sampai bosan mungkin, dia ingin kita kembali seperti dulu, aku nggak tahu apa dia waktu itu lagi horni atau dia memang pelarian atau dia memang sudah sadar dengan segala konsekuensinya.
kalau main api jangan api kompor, langsung saja api pembakaran mayat, hangus jadi debu sekalian. untuk resiko masing-masing yang diterima, kalau ketahuan?? ya...gimana lagi....????!!!!!
tapi kali ini aku nggak akan keterlaluan, tak seperti dulu lagi, aku rasa cukup ciuman, peluk dan perhatian aja yang aku perlu, untuk selebihnya aku rasa tak perlu, tapi entah nanti???!!!!
aku mau punya setan yang lebih jahat dari setannya dia, kalau dia bisa perlakukan aku seperti itu berarti aku pasti bisa lebih, dendam??? tidak, ini hanya mengimbangi, seperti main game, pasti ada yang kalah dan ada yang menang.
kalau orang bijak, dendam tidak diperbolehkan, yang ada adalah mengampuni. tapi tidak dalam kamusku, harus, tetap di balas.
jangan marah padaku, karena aku berusaha buat hidupmu tersiksa. kau yang ciptakan aku seperti ini. kau telah bangunkan setan jahat yang telah lama aku tidurkan, kau buatnya marah, kau buat dia tak bisa ampuni lagi, kau sudah kelewatan.......
#########################################
membuat dia terikat denganku ngak masalah, aku bisa lakukan dalam sehari, tapi aku takut termakan olehnya. aku takut kata-kata gebby benar-benar terjadi, karena ini dasarnya adalah perasaan. mungkin aku masih dendam sekarang, tapi luka ini sedikit demi sedikit akan terobati dengan segala rayuan gombalnya. “hey!!!!” kita ini wanita, mahluk ciptaan Tuhan yang paling lemah dan yang paling penuh perasaan. jadi gimana??? tetap diteruskan??? “ya, gimana lagi sudah basah sekalian aja diguyur semua” resiko mau di tanggung??? “semua itu beresiko, aku siap terima semua”
#########################################
Surabaya, 16 Juni 2005
Dia ajak aku ML, udah benar-benar rusak berat anak itu, dimana selama ini dia taruh otaknya, atau mungkin otaknya sudah diganti dengan busa sabun..???
buat dia mangkel sudah, sekarang tinggal buat dia marah tapi tak berdaya......
dia sudah tidak bisa di ampuni lagi, dia sudah rendahkan harga diriku, hancurkan cintaku, hianati kepercayaanku, permainkanku.
Surabaya, 17 juni 2005
aku jatuh lagi, aku akui tadi malam aku jatuh lagi, jatuh dalam pelukanmu, lari dari kepenatan ini dan mencari kehangatan di pelukmu.
tadi malam benar-benar sudah puncaknya bagiku, sudah meletus....tapi ortu belum juga sadar apa yang terjadi denganku, dia begitu jauh bagiku, sangat jauh.
tadi malam aku teriakkan kegetiranku ini padamu, dan kau berikan aku tanda seru, “bertahan” katamu. tapi peluh ini sudah mau di lepaskan ke angkasa, dan aku biarkan peluh itu menguap ke angkasa.
#########################################
Surabaya, 20 Juni 2005
aku rasa racun itu sudah aku semburkan ke wajahnya, rasanya pasti sangat panas kan????
itu karena aku ingin semuanya kembali pada seharusnya, siapa yang menabur dia yang menuai, dan aku adalah tuaianya, yang mebusuk setelah dia petik.
aku rasa aku tak bisa terus hidup seperti ini terus, aku akan hentikan semua, dan selesai. lelah hati ini capek raga ini, aku rasa cinta ini sampai di sini saja, tak ada awal yang jelas, jadi jangan harap untuk dapat selesaikan akhir yang bahagia.
ya....kisah ini membosankan bagi siapa yang tak pernah alaminya, dan ngak masuk akal bagi orang yang mendasari segalanya dengan teori.
di dalam sini hanyalah rasa, aku ingin hidup lagi,aku ingin bangkit dari matiku dan rasakan lagi seperti apa hidup itu sebenarnya, aku ingin hilangkan kebiasaanku melamun, kebiasaanku menagis, kebiasaanku emosi, dan kembali seperti diriku sebelum mati, hidup begitu lekat dengan kenyataan, bisa rasakan lagi suara hati, angin, udara, api, air, bisa dengarkan lagi suaraNya. yah....aku akan tutup lembar ini sampai disini.
#########################################
SUDAH SELESAI 16.40 WIB, 20 JUNI 2005
maaf sayang......
maaf bila semua ini menyakitkan....
maaf bila derita ini mengerogoti tubuhmu....
maaf bila aku tak bisa temanimu di sana......
maaf bila saat kau teriakkan namaku aku tak datang....
maaf bila saat kau hembuskan nafasmu aku tak memelukmu....
tapi aku sekarang dapat menjemputmu, ikutlah denganku
kita pergi bersama...kedunia kita....dimana kita........
bisa bersama...........